Minggu, 20 Mei 2012 - 0 komentar

Wahabi Memalsukan Kitab Para Ulama Salaf


buku aswajaBuku ini bagus sekali untuk membentengi aqidah ASWAJA dari virus-virus wahabi, merupakan kelanjutan dari jilid pertamanya yang berjudul Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi. Mungkin ada yang beranggapan bahwa isu wahabi merupakan isu jadul yang sengaja dihembuskan kembali. Tetapi kesimpulan seperti itu tidak berhenti di situ saja jika melihat perkembangan dan fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat. Artinya wahabi bukan cuma sekedar isu, tetapi juga fenomena sosial yang berkaitan dengan politik, ekonomi dan akademik. Sama seperti jika kita membicarakan ideologi, agama, dan sebagainya. Ada berbagai macam isu yang terus berkembang dan tidak pernah stagnan.
Menguatnya pembicaraan tentang Wahabi tidak urung lagi berkaitan erat dengan kian banyaknya pemberitaan dan literatur penelitian yang membahas hal ini. Seperti yang dikatakan Azyumardi Azra dalam pengantar buku jilid ke-2, mengenai penelitian terbaru seputar Wahabi, yakni buku karya Natana J. Delong-Bas, Wahabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihad (Oxford-Cairo: Oxford University Press, 2005). Wahabi merupakan aliran pemikiran dan gerakan politik yang paling tidak toleran dalam Islam, yang berusaha dengan cara apapun –termasuk jalan kekerasan- untuk menerapkan apa yang dianggap oleh mereka sebagai “Islam Murni”. Ini bisa terlihat dari pemikiran dan kiprah Muhammad Ibn Abd al-Wahab di tanah Hijaz sejak abad ke-18, yang menguasai lanskap keagamaan di Saudi Arabia setelah menduduki Mekkah dan Madinah bersama dengan trah Saud.
Semua golongan yang dianggap telah melakukan Bid’ah atau kesesatan dibasmi dengan menggunakan segala cara termasuk dengan kekerasan. Sampai kini Wahabi tetap dianut dan diterapkan dalam sistem pemerintah Saudi Arabia, demikian pula dengan penyebaran atau mengimpor ajaran itu ke seluruh dunia Islam juga terus digencarkan, seperti melalui pemberian dana dan bantuan lainnya kepada institusi, organisasi, dan kelompok-kelompok dalam komunitas muslim. Dalam bidang akademis, salah satu caranya dengan membagikan literatur karangan Muhammad Ibn Abd al-Wahab agar proses transmisi keilmuan, pola pikir, dan gerakan mereka terealisasi dengan baik.
Pada buku kedua ini, sang penulis buku membeberkan bagaimana kelompok Wahabi berupaya memalsukan buku-buku karya ulama klasik dan sejumlah ajaran-ajaran yang menjadi pondasi dasar keyakinan mereka. Misalkan pemalsuan kitab Diwan Imam al-Syafi’i. Kelompok Wahabi sangat membenci kaum sufi yang mereka tuding sesat, karena itu mereka menghilangkan beberapa bagian nasihat Imam Syafi’I tentang sufistik dalam buku versi terbitan mereka. Padahal di buku-buku lainnya versi penerbit lain yang berasal dari Beirut, Damaskus, dan Kairo.
Imam Syafi’I berujar: “Jadilah ahli Fikih dan Sufi Sekaligus, jangan hanya salah satunya. Sungguh demi Allah, saya benar-benar ingin memberi nasihat kepadamu. Orang yang hanya memelajari ilmu fikih tetapi tidak memelajari ilmu tasawuf, maka hatinya keras dan tidak dapat merasakan nikmatnya takwa, sebaliknya orang yang hanya memelajari tasawuf saja akan menjadi bodoh, tidak tahu yang benar.”
Bait ini kemudian dihilangkan oleh penerbit-penerbit buku di Saudi. Selanjutnya demikian pula dengan kitab hadis Shahih Bukhari, seperti penghilangan pasal al-Ma’rifah pada Bab al-Mazhalim, padahal dalam kitabFath al-bari karya Ibn Hajar al-Asqalani yang menjadi Syarh atau berfungsi untuk menjelaskan kitab Shahih Bukhari, di situ ditulis jelas mengenai komentar Ibn Hajar mengenai hadis-hadis yang terdapat di dalam pasalal-Ma’rifah. Kemudian pada kitab Shahih Muslim ada sebuah hadis tentang keutamaan empat perempuan terbaik di dunia yakni; Siti Maryam (Ibunda Nabi Isa), Siti Asiah (Istri Firaun, ibunda angkat Nabi Musa), Siti Khadijah, dan Siti Fatimah. Tetapi dalam cetakan penerbit Saudi, Masykul, justru hadis yang tercantum dalam bab Fadhail Khadijah (keutamaan Khadijah) itu dihilangkan. Malah yang dicantumkan adalah hadis tentang keutamaan istri Nabi yang bernama Aisyah. Mengapa hal ini terjadi, disinyalir hadis tersebut jika dicantumkan maka kaum Syi’ah dapat menemukan justifikasi tentang keutamaan Khadijah yang melahirkan Fatimah sebagai keluarga (Ahl Bait) Nabi, sebaliknya Aisyah dalam Perang Unta pernah berperang melawan Ali yang menantu Nabi serta suami Fatimah. Oleh karena itu mereka menghapus hadis itu dan mengganti dengan hadis tentang Aisyah namun malah memasukkannya di bab Fadhail Khadijah. Padahal hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibn Katsir dan diriwayatkan dalam kitab Ibn Katsir yang notabene dibilang termasuk dari kalangan Sunni.
Selain membeberkan beberapa penghilangan teks tulisan dari naskah-naskah klasik. Kelompok Wahabi juga mempunyai beberapa ajaran lain yang menjadi pondasi dasar. Salah satunya yaitu membenci ilmu sains yang dikatakan sebagai ilmu orang-orang kafir. Makanya ketika kita menghadiri pengajian kaum Salafi Wahabi, biasanya apa yang disebut ilmu hanya dalam kerangka ilmu ketuhanan yang meliputi tauhid, al-Qur’an dan Sunnah, dan cara-cara beribadah ritual belaka. Sementara ilmu lainnya tidak dapat disejajarkan dengan hal itu apalagi digunakan sebagai pendekatan untuk meneliti teks-teks utama Islam seperti al-Qur’an dan Sunnah.
Semisal dalam karangan salah satu ulama Saudi Abd al-Karim Ibn Shalih al-Humaid yang mengarang bukuHidayah al-Hairan fi Mas’alati al-Dauran, dikatakan bahwa keyakinan tentang bumi berputar merusak akidah mereka. Mereka keberatan jika bumi dikatakan berputar dan mengelilingi matahari. Karena menurut akidah mereka, Allah turun ke langit bumi ini setiap sepertiga malam yang terakhir sebagaimana dikatakan oleh teks utama. Namun mereka memahami secara literal-tekstual benar-benar turun ke bumi dari kursi Arasy. Maka jika bumi berputar berarti Allah tidak akan naik ke Arasy, sebab dengan adanya perputaran bumi setiap bagian bumi mengalami siang dan malam secara bergantian. Lantas kalau Allah tidak bisa naik kembali keArasy, kursi Arasy pun akan menjadi kosong. Dengan demikian mereka menolak pengetahuan yang mengajarkan tentang bumi yang berputar ini.
Dalam buku itu dikatakan: “Sesungguhnya di antara musibah yang merata terjadi di zaman sekarang ini adalah masuknya ilmu-ilmu kontemporer kepada umat Islam dari yang sesungguhnya menjadi musuh-musuh mereka, yaitu golongan Dahriyah dan Mu’aththalah (golongan orang yang tidak mengartikan teks agama secara tekstual), dan adanya dominasi ilmu-ilmu tersebut atas ilmu-ilmu agama. Ilmu kontemporer ini ada dua macam: pertama, ilmu mafdhulah yang mendominasi syariat Islam dan melemahkannya, maka ilmu itu diharamkan. Kedua, ilmu yang merusak akidah, seperti ilmu yang mengatakan bumi itu berputar dan yang lainnya dari ilmu-ilmu kafir.”
Dalam halaman lain Ibn Shalih al-Humaid juga menyatakan: “keyakinan bumi berputar jauh lebih berbahaya dari keyakinan manusia berasal dari kera… Semua dalil dari al-Qur’an dan Sunnah tentang bumi itu berputar adalah takwilan yang sesat.”
Syaikh Ibn Baz juga mengatakan hal yang sama tentang sesatnya keyakinan bumi berputar. Bahkan dia menyatakan bahwa orang yang bersikeras mengatakan bumi itu berputar maka orang itu murtad, halal nyawanya dan hartanya. Pendapat Ibn Baz ini terekam dalam kitab karangannya, al-Adillah al-Naqliyah wa al-Hissiyyah ‘ala Jaryan al-Syams wa Sukun al-Ardh (Dalil-Dalil Naqli dan Inderawi tentang Berputarnya Matahari dan Diamnya Bumi). Pada tahun 1976 melalui Dewan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, fatwa serupa juga dikeluarkan bahwa, “Sesungguhnya keyakinan yang mengatakan bahwa matahari tetap dan bumi berputar adalah perkataan yang sangat keji dan munkar. Siapa saja yang mengatakan bumi berputar dan matahari tidak berjalan, maka dia telah kafir dan sesat. Dia wajib diminta bertaubat. Itu jika dia mau bertaubat, jika tidak maka dia dibunuh sebagai kafir murtad, dan harta yang ditinggalkannya menjadi milikBaitul Mal kaum muslimin.” (Fatwa ini dikeluarkan oleh lembaga fatwa Saudi Arabia, Idarat al-Buhuts al-Amah wa al-Ifta’ wa al-Da’wah wa al-Irsyad dengan nomor fatwa 1/2925 tertanggal 7/22/1397 H).
Membaca  beberapa fatwa lain dari para ulama Saudi dalam buku ini, menandakan bahwa fenomena-fenomena yang terjadi dalam kondisi keragaman komunitas muslim dewasa ini, termasuk isu mengenai Wahabi yang tentunya tidak mungkin direduksi pada tataran isu semata. Maka perlu kiranya dalam penelusuran mengenai Wahabi tidak berhenti dengan mencantumkan aspek normatif, tetapi juga tidak kalah penting menelusuri bagaimana fenomena penyebaran ajaran Wahabi di Indonesia, semisal melalui media televisi berupa sinetron dan film bertema-tema keagamaan, serta beberapa media cetak dan radio. Mungkin hal itu dapat diteliti oleh si penulis pada buku jilid selanjutnya yang katanya akan segera terbit dalam waktu dekat. Hal tersebut dimaksudkan agar dinamika pergolakan di tengah umat akan terpetakan semakin jelas dan kentara, sehingga tidak bisa dengan gampang dimatikan begitu saja dengan atas nama kesatuan dan keseragaman, karena dalam melihat fenomena pasti ada perdebatan dan beragam cara baca untuk menelaahnya.

Judul Buku: Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik
Penerbit: Pustaka Pesantren, 2011
Penulis: Syaikh Idahram

0 komentar:

Poskan Komentar